Minggu, 18 Januari 2009

Prolog-tentang Nikah

      Nikah adalah mutholak arah/ titik perubahan yang belum pasti: bisa tambah lebih baik atau malah terpuruk...baik karena proses, persiapan, kondisi diri sudah terkonsep dan teruji dalam menjalankan semua PLAN kehidupan semenjak kita sadar akan kehidupan dan dewasa dg segala aspek kemanusiaan (fisik, Psikologi, ruhani, dll)..terpuruk bisa jadi karena niat yang 'pudar', proses yang kurang baik dan dosa terakumulasi menjadi ujian setelah menikah...karena menikah merupakan mengenapkan kewajiban kita terhadap DIEN ini, maka Allah lengkapkan pula ujiannya ketika berstatus setelah menikah...bagi yang terus menjalankan ujian ini dengan memperbaharui seluruh aspek nilai dosa yang telah lakukan oleh suami-istri maka enddingnya akan menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah wad da'wah ...jadi menikah adalah proses kehidupan...manusiawi dan ILLAHI...baik dan buruk semuanya mempunyai nilai ujian masing2...
      yang pasti ALLAH SWT akan hamparkan segala nikmat dan kebaikan bagi Hamba- hambanya yang memproses kehidupan ini dengan manusiawi (naluri kebaikan manusia)....watawaa shaubil haq watawaa shaubish shobr...fastabiqul khoiraat...amien...

( Ahmad Syahril Baidilah El-Bantani
: mawaqifun Nikah Fid Da'wah, Bab Ma'ani An-Nikah Fid Da'wah, Juz I Hal:14, Cetakan I, 2008 M/ 1429 H, Azzam Publishing, Jakarta)

TO ALL AKHWAT OR UMMAHAT

ada kisah tentang seorang akhwat...
begini ceritanya...
akhwat itu sebagaimana perempuan biasa, lemah gemulai, gaptek, ga bisa mengendarai sepeda, motor, apalagi mobil...perawakannya biasa, ilmunya juga biasa, parasnya juga biasa tapi yang luar biasa dia bersuamikan seorang aktivis dakwah yang tawadhu' dan muharik...alhamdulillah keluarga mereka dikarunia seorang anak laki- laki yang lincah dan mungil..alkisah ketika ibu dan anak ini ditinggalkan oleh suaminya untuk tugas dakwah...motor dengan standar dua sang suami ditinggalkan diruangan dalam rumah yang serba sederhana...
singkatnya: ketika sang anak- anak bermain2 dengan motor yang sedah distandar dua tiba- tiba saja tertiban oleh motor, spontan saja sangn ummi mendengar tangis+terikan anaknya lari terbirit- birit mencari sumber suara...melihat kaki anaknya tertimpah motor dengan refleks dan spontan sang Ummi membangunkan motor seperti semula..
setelah posisi motor sudah baik, sang ummi langsung menggendong anaknya...ketika menggendong tiba- tiba sang ibu malah mikir:qo saya bisa ya membangunkan motor yang berat itu,padahal dulu ketika saya belajar motor sendiri dan jatuh saya sama sekali tidak bisa membangunkannya karena memang berat..tapi tadi dengan tiba- tiba dan refleks pula saya begitu mudah dan ringan membangunkan motor itu..

so, what?apa ibroh dari pelajaran itu untuk para akhwat kawan...
BISA DENGAN 'DIPAKSA', DIGERAKKAN OLEH HATI, AMBIL PELAJARAN DISETIAP PERISTIWA...saya yakin akhwat bisa, apalagi mereka dalah perasa...ingat sang ummi menyelamatkan anaknya dan ingin memposisikan motor dengan baik..berjuanglah..

Ukhti Hatimu Dijendela Dunia- Akhi Juga...

Ukhti…Besarnya kerudungmu tidak menjamin sama dengan besarnya semangat jihadmu menuju ridho tuhanmu, mungkinkah besarnya kerudungmu hanya di gunakan sebagai fashion atau gaya jaman sekarang, atau mungkin kerudung besarmu hanya di jadikan alat perangkap busuk supaya mendapatkan ikhwan yang di idamkan bahkan bisa jadi kerudung besarmu hanya akan di jadikan sebagai identitasmu saja, supaya bisa mendapat gelar akhwat dan di kagumi oleh banyak ikhwan.

Ukhti…Tertutupnya tubuhmu tidak menjamin bisa menutupi aib saudaramu, keluargamu bahkan diri antunna sendiri, coba perhatikan sekejap saja, apakah aib saudaramu, teman dekatmu bahkan keluargamu sendiri sudah tertutupi, bukankah kebiasaan buruk seorang perempuan selalu terulang dengan tanpa di sadari melalui ocehan-ocehan kecil sudah membekas semua aib keluargamu, aib sudaramu, bahkan aib teman dekatmu melalui lisan manis mu.

Ukhti…Lembutnya suaramu mungkin selembut sutra bahkan lebih dari pada itu, tapi akankah kelembutan suara antunna sama dengan lembutnya ksasihmu pada saudaramu, pada anak-anak jalanan, pada fakir miskin dan pada semua orang yang menginginkan kelembutan dan kasih sayangmu.

Ukhti…Lembutnya Parasmu tak menjamin selembut hatimu, akankah hatimu selembut salju yang mudah meleleh dan mudah terketuk ketika melihat segerombolan anak-anak palestina terlihat gigih berjuang dengan berani menaruhkan jiwa dan raga bahkan nyawa sekalipun dengan tetes darah terakhir, akankah selembut itu hatimu ataukah sebaliknya hatimu sekeras batu yang ogah dan cuek melihat ketertindasan orang lain.

Ukhti…Rajinnya tilawahmu tak menjamin serajin dengan shalat malammu, mungkinkah malam-malammu di lewati dengan rasa rindu menuju Tuhanmu dengan bangun di tengah malam dan di temani dengan butiran-butiran air mata yang jatuh ke tempat sujud mu serta lantunan tilawah yang tak henti-hentinya berucap membuat setan terbirit-birit lari ketakutan. Atau sebaliknya, malammu selalu di selimuti dengan tebalnya selimut setan dan di nina bobokan dengan mimpi-mimpi negatifmu bahkan lupa kapan bangun shalat subuh.
Ukhti…Cerdasnya dirimu tak menjamin bisa mencerdaskan sesama saudaramu dan keluargamu, mungkinkah temanmu bisa ikut bergembira menikmati ilmu-ilmunya seperti yang antuna dapatkan, ataukah antunna tidak peduli sama sekali akan kecerdasan temanmu, saudaramu bahkan keluargamu, sehingga membiarkannya begitu saja sampai mereka jatuh ke dalam lubang yang sangat mengerikan yaitu maksiat.

Ukhti…Cantiknya wajahmumu tidak menjamin kecantikan hatimu terhadap saudaramu, temanmu bahkan diri antunna sendiri, pernahkah antunna menyadari bahwa kecantikan yang antunna punya hanya titipan ketika muda, apakah sudah tujuh puluh tahun kedepan antunna masih terlihat cantik, jangan-jangan kecantikanmu hanya di jadikan perangkap jahat supaya bisa menaklukan hati ikhwan dengan senyuman-senyuman busukmu.

Ukhti…Tundukan pandanganmu yang jatuh ke bumi tidak menjamin sama dengan tundukan semangatmu untuk berani menundukan musuh-musuhmu, terlalu banyak musuh yang akan antunna hadapi mulai dari musuh-musuh islam sampai musuh hawa nafsu pribadimu yang selalu haus dan lapar terhadap perbuatan jahatmu.

Ukhti…Tajamnya tatapanmu yang menusuk hati, menggoda jiwa tidak menjamin sama dengan tajamnya kepekaan dirimu terhadap warga sesamamu yang tertindas di Palestina, pernahkah antunna menangis ketika mujahid-mujahidah kecil tertembak mati, atau dengan cuek bebek membiarkan begitu saja, pernahkah antunna merasakan bagaimana rasanya berjihad yang di lakukan oleh para mujahidah-mujahidah teladan.

Ukhti…Lirikan matamu yang menggetarkan jiwa tidak menjamin dapat menggetarkan hati saudaramu yang senang bermaksiat, coba antunna perhatikan dunia sekelilingmu masih banyak teman, saudara bahkan keluarga antunna sendiri belum merasakan manisnya islam dan iman. Mereka belum merasakan apa yang antunna rasakan, bisa jadi salah satu dari keluargamu masih gemar bermaksiat, berpakaian seksi dan berperilaku binatang yang tak karuan, sanggupkah antunna menggetarkan hati-hati mereka supaya mereka bisa merasakan sama apa yang antunna rasakan yaitu betapa lezatnya hidup dalam kemuliaan Islam.

Ukhti…Tebalnya kerudungmu tidak menjamin setebal imanmu pada Sang Khalikmu, antunna adalah salah satu sasaran setan durjana yang selalu mengintai dari semua penjuru mulai dari depan belakang atas bawah semua setan mengintaimu, imanmu dalam bahaya, hatimu dalam ancaman, tidak akan lama lagi imanmu akan terobrak abrik oleh tipuan setan jika imanmu tidak betul-betul di jaga olehmu, banyak cara yang harus antunna lakukan mulai dari diri sendiri, dari yang paling kecil dan seharusnya di lakukan sejak dari sekarang, kapan lagi coba….?

Ukhti…Putihnya kulitmu tidak menjamin seputih hatimu terhadap saudaramu, temanmu bahkan keluargamu sendiri, masih kah hatimu terpelihara dari berbagai penyakit yang merugikan seperti riya dan sombong, pernahkah antunna membanggakan diri ketika kesuksesan dakwah telah di raih dan merasa diri paling wah, merasa diri paling aktif, bahkan merasa diri paling cerdas di atas rata - rata akhwat yang lain, sesombong itukah hatimu? lalu di manakah beningnya hatimu, dan putihnya cintamu.

Ukhti…Rajinnya ngajimu tidak menjamin serajin infakmu ke mesjid atau mushola, sadarkah antunna kalo kotak - kotak nongkrong di masjid masih terlihat kosong dan menghawatirkan, tidakkah antunna memikirkan infaq sedikit saja, bahkan kalaupun infaq, kenapa uang yang paling kecil dan paling lusuh yang antunna masukan, maukah antunna di beri rizki sepelit itu?

Ukhti…Rutinnya halaqahmu tidak menjamin serutin puasa sunnah senin- kamis yang antunna laksanakan , kejujuran hati tidak bisa dibohongi, kadang semangat fisik begitu bergelora untuk di laksanakan. Tapi, semangat ruhani tanpa di sadari turun drastic, puasa ayyaumul bidh pun terlupakan apalagi puasa senin kamis yang di rasakan terlalu sering dalam seminggu, separah itukah hati antuna? makanan fisik yang antuna pikirkan dan ternyata ruhiyah pun butuh stok makanan, kita tidak pernah memikirkan bagaimana akibatnya kalau ruhiyah kurang gizi.

Ukhti…Manisnya senyummu tak menjamin semanis rasa kasihmu terhadap sesamamu, kadang sikap ketusmu terlalu banyak mengecewakan orang sepanjang jalan yang antunna lewati, sikap ramahmu pada orang antuna temui sangat jarang terlihat, bahkan selalu dan selalu terlihat cuek dan menyebalkan, kalau itu kenyataannya bagaiamana orang lain akan simpati terhadap komunitas dakwah yang memerlukan banyak kader. Ingat!!! Dakwah tidak memerlukan antunna tapi… antunnalah yang memerlukan dakwah, kita semua memerlukan dakwah.

Ukhti…Rajinnya shalat malammu tidak menjamin keistiqomahan seperti Rosulullah sebagai panutanmu.

Ukhti…Ramahnya sikapmu tidak menjamin seramah sikapmu terhadap sang kholikmu, masihkah antunna senang bermanjaan dengan tuhanmu dengan shalat dhuhamu, shalat malammu?

Ukhti…Dirimu bagaikan kuntum bunga yang mulai merekah dan mewangi, akankah nama harummu disia-siakan begitu saja dan atau sanggupkah antuna ketika sang mujahid akan segara menghampirimu.

Ukhti…Masih ingatkah antunna terhadap pepatah yang masih terngiang sampai saat ini bahwa "akhwat yang baik hanya untuk ikhwan yang baik", jadi siap-siaplah sang syuhada akan menjemputmu di pelaminan hijaumu.

Ukhti…Baik buruk parasmu bukanlah satu-satunya jaminan akan sukses masuk dalam surga Rabbmu. Maka, tidak usah berbangga diri dengan parasmu yang molek, tapi berbanggalah ketika iman dan taqwamu sudah betul-betul terasa dan terbukti dalam hidup sehari-harimu.

Ukhti…Muhasabah yang antunna lakukan masihkah terlihat rutin dengan menghitung-hitung kejelekan dan kebusukan kelakuan antunna yang di lakukan siang hari, atau bahkan kata muhasabah itu sudah tidak terlintas lagi dalam hatimu, sungguh lupa dan sirna tidak ingat sedikitpun apa yang harus di lakukan sebelum tidur, antunna tidur mendengkur begitu saja dan tidak pernah kenal apa itu muhasabah sampai kapan akhlak busuk mu di lupakan, kenapa muhasabah tidak di jadikan sebagai moment untuk perbaikan diri? bukankah akhwat baik yang hanya akan mendapatkan ikhwah yang baik.

Ukhti…Pernahkah antunna bercita-cita ingin mendapatkan suami ikhwan yang ideal, wajah yang manis, badan yang kekar, dengan langkah tegap dan pasti, bukankah apa yang antunna pikirkan sama dengan yang ikhwan pikirkan yaitu ingin mencari isteri yang solehah dan seorang mujahidah, kenapa tidak dari sekarang antunna mempersiapkan diri menjadi seorangan mujahidah yang solehah.

Ukhti…Apakah kebiasaan buruk wanita lain masih ada dan hinggap dalam diri antuna, seperti bersikap pemalas dan tak punya tujuan atau lama-lama nonton tv yang tidak karuan dan hanya akan mengeraskan hati sampai lupa waktu, lupa Bantu orang tua, kapan akan menjadi anak yang birruwalidain, kalau memang itu terjadi jadi sampai kapan, mulai kapan antunna akan mendapat gelar mujahidah atau akhwat solehah.

Ukhti…Apakah pandanganmu sudah terpelihara, atau pura-pura nunduk ketika melihat seorang ikhwan dan terlepas dari itu matamu kembali jelalatan layaknya mata harimau mencari mangsa, atau tundukan pandangannmu hanya menjadi alasan belaka karena merasa berkerudung besar.

Ukhti… Hatimu di jendela dunia, dirimu menjadi pusat perhatian semua orang, sanggupkah antuna menjaga izzah yang antuna punya, atau sebaliknya antuna bersikap acuh tak acuh terhadap penilaian orang lain dan hal itu akan merusak citra akhwat yang lain, kadang orang lain akan mempunyai persepsi di sama ratakan antara akhwat yang satu dengan akhwat yang lain, jadi kalo antunna sendiri membuat kebobrokan akhlak maka akan merusak citra akhwat yang lain.

Ukhti…Dirimu menjadi dambaan semua orang, karena yakinlah preman sekalipun, bahkan brandal sekalipun tidak menginginkan isteri yang akhlaknya bobrok tapi semua orang menginginkan isteri yang solehah, siapkah antunna sekarang menjadi isteri solehah yang selalu di damba-dambakan oleh semua orang?

Untuk Ikhwan juga ada loch....
Akhi…Besarnya tenagamu tidak menjamin sama dengan besarnya semangat jihadmu menuju ridho tuhanmu, mungkinkah besarnya tenagamu hanya di gunakan sebagai Ciri khas seOrang pRia beLaka? atau mungkin besar tenagamu hanya di jadikan alat perangkap busuk supaya mendapatkan Akhwat yang di idamkan bahkan bisa jadi besar tenagamu hanya akan di jadikan sebagai imaGemu saja, supaya bisa mendapat gelar iKhwan yg kuat dan di kagumi oleh banyak akhwat.

Akhi…Tertutupnya tubuhmu tidak menjamin bisa menutupi aib saudaramu, keluargamu bahkan diri antum sendiri, coba perhatikan sekejap saja, apakah aib saudaramu, teman dekatmu bahkan keluargamu sendiri sudah tertutupi, bukankah iKhwan jg taNpa seNgaja atw sengaja melalui ocehan-ocehan kecil sudah membekas semua aib keluargamu, aib sudaramu, bahkan aib teman dekatmu melalui lisan manis mu.

Akhi…Lantangnya suaramu dLm berorasi mungkin selantang petir yg menyambar bahkan lebih dari pada itu, tapi akankah kelantangan suara antum sama dengan lantangnya pembeLaanmu pada hak2 saudaramu, pada anak-anak jalanan, pada fakir miskin dan pada semua orang yang menginginkan perLindungan dan kasih sayangmu.

Akhi…Lembutnya Parasmu tak menjamin selembut hatimu, akankah hatimu selembut salju yang mudah meleleh dan mudah terketuk ketika melihat segerombolan anak-anak palestina terlihat gigih berjuang dengan berani menaruhkan jiwa dan raga bahkan nyawa sekalipun dengan tetes darah terakhir, akankah selembut itu hatimu ataukah sebaliknya hatimu sekeras batu yang ogah dan cuek melihat ketertindasan orang lain.

Akhi…Rajinnya tilawahmu tak menjamin serajin dengan shalat malammu, mungkinkah malam-malammu di lewati dengan rasa rindu menuju Tuhanmu dengan bangun di tengah malam dan di temani dengan butiran-butiran air mata yang jatuh ke tempat sujud mu serta lantunan tilawah yang tak henti-hentinya berucap membuat setan terbirit-birit lari ketakutan. Atau sebaliknya, malammu selalu di selimuti dengan tebalnya selimut setan dan di nina bobokan dengan mimpi-mimpi negatifmu bahkan lupa kapan bangun shalat subuh.

Akhi…Cerdasnya dirimu tak menjamin bisa mencerdaskan sesama saudaramu dan keluargamu, mungkinkah temanmu bisa ikut bergembira menikmati ilmu-ilmunya seperti yang antuna dapatkan, ataukah antum tidak peduli sama sekali akan kecerdasan temanmu, saudaramu bahkan keluargamu, sehingga membiarkannya begitu saja sampai mereka jatuh ke dalam lubang yang sangat mengerikan yaitu maksiat.

Akhi…Tampannya wajahmu tidak menjamin Tampannya hatimu terhadap saudaramu, temanmu bahkan diri antum sendiri, pernahkah antm menyadari bahwa ketampanan yang antum punya hanya titipan ketika muda, apakah sudah tujuh puluh tahun kedepan antunm masih terlihat tampan, jangan-jangan ketampananmu hanya di jadikan perangkap jahat supaya bisa menaklukan hati akhwat dengan senyuman-senyuman busukmu.

Akhi…Tundukan pandanganmu yang jatuh ke bumi tidak menjamin sama dengan tundukan semangatmu untuk berani menundukan musuh-musuhmu, terlalu banyak musuh yang akan antum hadapi mulai dari musuh-musuh islam sampai musuh hawa nafsu pribadimu yang selalu haus dan lapar terhadap perbuatan jahatmu.

Akhi…Tajamnya tatapanmu yang menusuk hati, menggoda jiwa tidak menjamin sama dengan tajamnya kepekaan dirimu terhadap warga sesamamu yang tertindas di Palestina, pernahkah antm menangis ketika mujahid-mujahidah kecil tertembak mati, atau dengan cuek bebek membiarkan begitu saja, pernahkah antm merasakan bagaimana rasanya berjihad yang di lakukan oleh para mujahid-mujahid teladan.

Akhi…Lirikan matamu yang menggetarkan jiwa tidak menjamin dapat menggetarkan hati saudaramu yang senang bermaksiat, coba antum perhatikan dunia sekelilingmu masih banyak teman, saudara bahkan keluarga antum sendiri belum merasakan manisnya islam dan iman. Mereka belum merasakan apa yang antm rasakan, bisa jadi salah satu dari keluargamu masih gemar bermaksiat, dan berperilaku binatang yang tak karuan, sanggupkah antum menggetarkan hati-hati mereka supaya mereka bisa merasakan sama apa yang antm rasakan yaitu betapa lezatnya hidup dalam kemuliaan Islam.

Akhi…Tebalnya jenggotmu tidak menjamin setebal imanmu pada Sang Khalikmu, antum adalah salah satu sasaran setan durjana yang selalu mengintai dari semua penjuru mulai dari depan belakang atas bawah semua setan mengintaimu, imanmu dalam bahaya, hatimu dalam ancaman, tidak akan lama lagi imanmu akan terobrak abrik oleh tipuan setan jika imanmu tidak betul-betul di jaga olehmu, banyak cara yang harus antum lakukan mulai dari diri sendiri, dari yang paling kecil dan seharusnya di lakukan sejak dari sekarang, kapan lagi coba….?



Akhi…HaLusnya perangaimu tidak menjamin haLusnya hatimu terhadap saudaramu, temanmu bahkan keluargamu sendiri, masihkah hatimu terpelihara dari berbagai penyakit yang merugikan seperti riya dan sombong, pernahkah antum membanggakan diri ketika kesuksesan dakwah telah di raih dan merasa diri paling wah, merasa diri paling aktif, bahkan merasa diri paling cerdas di atas rata - rata ikhwah yang lain, sesombong itukah hatimu? lalu di manakah beningnya hatimu, dan haLusnya cintamu.

Akhi…Rajinnya ngajimu tidak menjamin serajin infakmu ke mesjid atau mushola, sadarkah antum kalo kotak - kotak nongkrong di masjid masih terlihat kosong dan menghawatirkan, tidakkah antm memikirkan infaq sedikit saja, bahkan kalaupun infaq, kenapa uang yang paling kecil dan paling lusuh yang antum masukan, maukah antum di beri rizki sepelit itu?

Akhi…Rutinnya halaqahmu tidak menjamin serutin puasa sunnah senin- kamis yang antum laksanakan , kejujuran hati tidak bisa dibohongi, kadang semangat fisik begitu bergelora untuk di laksanakan. Tapi, semangat ruhani tanpa di sadari turun drastic, puasa ayyaumul bidh pun terlupakan apalagi puasa senin kamis yang di rasakan terlalu sering dalam seminggu, separah itukah hati antum? makanan fisik yang antum pikirkan dan ternyata ruhiyah pun butuh stok makanan, kita tidak pernah memikirkan bagaimana akibatnya kalau ruhiyah kurang gizi.

Akhi…Manisnya senyummu tak menjamin semanis rasa kasihmu terhadap sesamamu, kadang sikap ketusmu terlalu banyak mengecewakan orang sepanjang jalan yang antum lewati, sikap ramahmu pada orang antum temui sangat jarang terlihat, bahkan selalu dan selalu terlihat cuek dan menyebalkan, kalau itu kenyataannya bagaiamana orang lain akan simpati terhadap komunitas dakwah yang memerlukan banyak kader. Ingat!!! Dakwah tidak memerlukan antum tapi… antumlah yang memerlukan dakwah, kita semua memerlukan dakwah.

Akhi…Rajinnya shalat malammu tidak menjamin keistiqomahan seperti Rosulullah sebagai panutanmu.

Akhi…Ramahnya sikapmu tidak menjamin seramah sikapmu terhadap sang kholikmu, masihkah antum senang bermanjaan dengan tuhanmu dengan shalat dhuhamu, shalat malammu?

Akhi…Dirimu adaLah iMam dLm kLuarga. akankah geLar itu disia-siakan saja dan sanggupkah antum menghampiri sang mujahidah yg menunggumu.

Akhi…Masih ingatkah antum terhadap pepatah yang masih terngiang sampai saat ini bahwa "akhwat yang baik hanya untuk ikhwan yang baik", jadi siap-siaplah menjemput sang bidadari di pelaminan hijaumu.

Akhi…Baik buruk parasmu bukanlah satu-satunya jaminan akan sukses masuk dalam surga Rabbmu. Maka, tidak usah berbangga diri dengan parasmu yang rupawan, tapi berbanggalah ketika iman dan taqwamu sudah betul-betul terasa dan terbukti dalam hidup sehari-harimu.

Akhi…Muhasabah yang antm lakukan masihkah terlihat rutin dengan menghitung-hitung kejelekan dan kebusukan kelakuan antm yang di lakukan siang hari, atau bahkan kata muhasabah itu sudah tidak terlintas lagi dalam hatimu, sungguh lupa dan sirna tidak ingat sedikitpun apa yang harus di lakukan sebelum tidur, antm tidur mendengkur begitu saja dan tidak pernah kenal apa itu muhasabah sampai kapan akhlak busuk mu di lupakan, kenapa muhasabah tidak di jadikan sebagai moment untuk perbaikan diri? bukankah ikhwan baik yang hanya akan mendapatkan akhwat yang baik.

Akhi…Pernahkah antum bercita-cita ingin mendapatkan istRi akhwat yang shoLehah, dengan wajah yang manis, dan dengan keLembutan&kebaikan hatinya, bukankah apa yang antum pikirkan sama dengan yang akhwat pikirkan yaitu ingin mencari suami yang sholeh dan seorang mujahid, kenapa tidak dari sekarang antum mempersiapkan diri menjadi seorangan mujahid yang sholeh.

Akhi…Apakah kebiasaan buruk LeLaki yg lain masih ada dan hinggap dalam diri antum, seperti bersikap pemalas dan tak punya tujuan atau lama-lama nonton tv yang tidak karuan dan hanya akan mengeraskan hati sampai lupa waktu, lupa Bantu orang tua, kapan akan menjadi anak yang birruwalidain, kalau memang itu terjadi jadi sampai kapan, mulai kapan antum akan mendapat gelar mujahid atau ikhwan sholeh.

Akhi…Apakah pandanganmu sudah terpelihara, atau pura-pura nunduk ketika melihat seorang akhwat dan terlepas dari itu matamu kembali jelalatan layaknya mata harimau mencari mangsa, atau tundukan pandangannmu hanya menjadi alasan belaka karena merasa berkerudung besar.

Akhi…Hatimu di jendela dunia, dirimu menjadi pusat perhatian semua orang, sanggupkah antum menjaga izzah yang antum punya, atau sebaliknya antum bersikap acuh tak acuh terhadap penilaian orang lain dan hal itu akan merusak citra ikhwan yang lain, kadang orang lain akan mempunyai persepsi di sama ratakan antara ikhwan yang satu dengan ikhwan yang lain, jadi kalo antum sendiri membuat kebobrokan akhlak maka akan merusak citra ikhwan yang lain.

Akhi…Dirimu menjadi dambaan semua orang, karena yakinlah preman wanita sekalipun tidak menginginkan suami yang akhlaknya bobrok tapi semua orang menginginkan suami yang sholeh, siapkah antum sekarang menjadi suami yg sholeh yang selalu di damba-dambakan oleh semua wanita?

PROPOSAL NIKAH- Renungan Untuk Memperbaharui Niat



Latar Belakang

     Ibunda, Ayahanda dan asaudara-saudaraku yang sangat saya hormati, saya cintai dan sayangi, semoga Allah selalu memberkahi langkah-langkah kita dan tidak putus-putus memberikan nikmatNya kepada kita. Amin
    Ibunda, Ayahanda dan saudara-saudaraku yang sangat saya hormati..sebagai hamba Allah, saya telah diberi berbagai nikmat. Maha Benar Allah yang telah berfirman : "Kami akan perlihatkan tanda-tanda kebesaran kami di ufuk-ufuk dan dalam diri mereka, sehingga mereka dapat mengetahui dengan jelas bahwa Allah itu benar dan Maha Melihat segala sesuatu".
    Nikmat tersebut diantaranya ialah fitrah kebutuhan biologis, saling membutuhkan terhadap lawan jenis.. yaitu: Menikah ! Fitrah pemberian Allah yang telah lekat pada kehidupan manusia, dan jika manusia melanggar fitrah pemberian Allah, hanyalah kehancuran yang didapatkannya..Na'udzubillah ! Dan Allah telah berfirman : "Janganlah kalian mendekati zina, karena zina adalah perbuatan yang buruk lagi kotor" (Qs. Al Israa' : 32).
    Ibunda, Ayahanda dan saudara- saudaraku tercinta..melihat pergaulan anak muda dewasa itu sungguh amat memprihatinkan, mereka seolah tanpa sadar melakukan perbuatan-perbuatan maksiat kepada Allah. Seolah-olah, dikepala mereka yang ada hanya pikiran-pikiran yang mengarah kepada kebahagiaan semu dan sesaat. Belum lagi kalau ditanyakan kepada mereka tentang menikah. "Saya nggak sempat mikirin kawin, sibuk kerja, lagipula saya masih ngumpulin barang dulu," ataupun Kerja belum mapan , belum cukup siap untuk berumah tangga¡¨, begitu kata mereka, padahal kurang apa sih mereka. Mudah-mudahan saya bisa bertahan dan bersabar agar tak berbuat maksiat. Wallahu a'lam.
    Ibunda, Ayahanda dan suadara- saudaraku tersayang..bercerita tentang pergaulan anak muda yang cenderung bebas pada umumnya, rasanya tidak cukup tinta ini untuk saya torehkan. Setiap saya menulis peristiwa anak muda di majalah Islam, pada saat yang sama terjadi pula peristiwa baru yang menuntut perhatian kita..Astaghfirullah.. Ibunda, Ayahanda dan saudara-saudaraku..inilah antara lain yang melatar belakangi saya ingin menyegerakan menikah.

Dasar Pemikiran

Dari Al Qur¡¦an dan Al Hadits :
1. "Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui." (QS. An Nuur (24) : 32).
2. "Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah." (QS. Adz Dzariyaat (51) : 49).
3. ¨Maha Suci Allah yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui¡¨ (Qs. Yaa Siin (36) : 36).
4. Bagi kalian Allah menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis kalian sendiri, kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian anak cucu keturunan, dan kepada kalian Dia berikan rezeki yang baik-baik (Qs. An Nahl (16) : 72).
5. Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (Qs. Ar. Ruum (30) : 21).
6. Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi pelindung (penolong) bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasulnya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah ; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Qs. At Taubah (9) : 71).
7. Wahai manusia, bertaqwalah kamu sekalian kepada Tuhanmu yang telah menjadikan kamu satu diri, lalu Ia jadikan daripadanya jodohnya, kemudian Dia kembangbiakkan menjadi laki-laki dan perempuan yang banyak sekali. (Qs. An Nisaa (4) : 1).
8. Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik pula (begitu pula sebaliknya). Bagi mereka ampunan dan reski yang melimpah (yaitu : Surga) (Qs. An Nuur (24) : 26).
9. ..Maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja..(Qs. An Nisaa' (4) : 3).
10. Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukminah apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sesungguhnya dia telah berbuat kesesatan yang nyata. (Qs. Al Ahzaab (33) : 36).
11. Anjuran-anjuran Rasulullah untuk Menikah : Rasulullah SAW bersabda: "Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku !"(HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.).
12. Empat macam diantara sunnah-sunnah para Rasul yaitu : berkasih sayang, memakai wewangian, bersiwak dan menikah (HR. Tirmidzi).
13. Dari Aisyah, "Nikahilah olehmu kaum wanita itu, maka sesungguhnya mereka akan mendatangkan harta (rezeki) bagi kamu¡¨ (HR. Hakim dan Abu Dawud).
14. Jika ada manusia belum hidup bersama pasangannya, berarti hidupnya akan timpang dan tidak berjalan sesuai dengan ketetapan Allah SWT dan orang yang menikah berarti melengkapi agamanya, sabda Rasulullah SAW: "Barangsiapa diberi Allah seorang istri yang sholihah, sesungguhnya telah ditolong separoh agamanya. Dan hendaklah bertaqwa kepada Allah separoh lainnya." (HR. Baihaqi).
14. Dari Amr Ibnu As, Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasannya ialah wanita shalihat.(HR. Muslim, Ibnu Majah dan An Nasai).
15. "Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim) : a. Orang yang berjihad / berperang di jalan Allah. b. Budak yang menebus dirinya dari tuannya. c. Pemuda / i yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram."
16. "Wahai generasi muda ! Bila diantaramu sudah mampu menikah hendaklah ia nikah, karena mata akan lebih terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara." (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas'ud).
17. Kawinlah dengan wanita yang mencintaimu dan yang mampu beranak. Sesungguhnya aku akan membanggakan kamu sebagai umat yang terbanyak (HR. Abu Dawud).
18. Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, dan perbanyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlahmu di tengah umat yang lain (HR. Abdurrazak dan Baihaqi).
19. Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga lebih baik, daripada 70 rakaat yang diamalkan oleh jejaka (atau perawan) (HR. Ibnu Ady dalam kitab Al Kamil dari Abu Hurairah).
20. Rasulullah SAW. bersabda : "Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah" (HR. Bukhari).
21. Diantara kamu semua yang paling buruk adalah yang hidup membujang, dan kematian kamu semua yang paling hina adalah kematian orang yang memilih hidup membujang (HR. Abu Ya¡¦la dan Thabrani).
22. Dari Anas, Rasulullah SAW. pernah bersabda : Barang siapa mau bertemu dengan Allah dalam keadaan bersih lagi suci, maka kawinkanlah dengan perempuan terhormat. (HR. Ibnu Majah,dhaif).
23. Rasulullah SAW bersabda : Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian diantaramu. Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan menambah keluhuran mereka (Al Hadits).

Tujuan Pernikahan


1. Melaksanakan perintah Allah dan Sunnah Rasul.
2. Melanjutkan generasi muslim sebagai pengemban risalah Islam.
3. Mewujudkan keluarga Muslim menuju masyarakat Muslim.
4. Mendapatkan cinta dan kasih sayang.
5. Ketenangan Jiwa dengan memelihara kehormatan diri (menghindarkan diri dari perbuatan maksiat / perilaku hina lainnya).
6. Agar kaya (sebaik-baik kekayaan adalah isteri yang shalihat).
7. Meluaskan kekerabatan (menyambung tali silaturahmi / menguatkan ikatan kekeluargaan)

Kesiapan Pribadi

1. Kondisi Qalb yang sudah mantap dan makin bertambah yakin setelah istikharah. Rasulullah SAW. bersabda : ¡§Man Jadda Wa Jadda¡¨ (Siapa yang bersungguh-sungguh pasti ia akan berhasil melewati rintangan itu).
2. Termasuk wajib nikah (sulit untuk shaum).
3. Termasuk tathhir (mensucikan diri).
4. Secara materi, Insya Allah siap. ¡§Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya¡¨ (Qs. At Thalaq (65) : 7)

Akibat Menunda atau Mempersulit Pernikahan

1. Kerusakan dan kehancuran moral akibat pacaran dan free sex.
2. Tertunda lahirnya generasi penerus risalah.
3. Tidak tenangnya Ruhani dan perasaan, karena Allah baru memberi ketenangan dan kasih sayang bagi orang yang menikah.
4. Menanggung dosa di akhirat kelak, karena tidak dikerjakannya kewajiban menikah saat syarat yang Allah dan RasulNya tetapkan terpenuhi.
5. Apalagi sampai bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Rasulullah SAW. bersabda: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia bersunyi sepi berduaan dengan wanita yang tidak didampingi mahramnya, karena yang menjadi pihak ketiganya adalah syaitan." (HR. Ahmad) dan "Sungguh kepala salah seorang diantara kamu ditusuk dengan jarum dari besi lebih baik, daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya" (HR. Thabrani dan Baihaqi).. Astaghfirullahaladzim.. Na'udzubillahi min dzalik
Namun, umumnya yang terjadi di masyarakat di seputar pernikahan adalah sebagai berikut ini :
• Status yang mulia bukan lagi yang taqwa, melainkan gelar yang disandang:Ir, DR, SE, SH, ST, dsb
• Pesta pernikahan yang wah / mahar yang tinggi, sebab merupakan kebanggaan tersendiri, bukan di selenggarakan penuh ketawadhu'an sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. (Pernikahan hendaklah dilandasi semata-mata hanya mencari ridha Allah dan RasulNya. Bukan di campuri dengan harapan ridha dari manusia (sanjungan, tidak enak kata orang). Saya yakin sekali.. bila Allah ridha pada apa yang kita kerjakan, maka kita akan selamat di dunia dan di akhirat kelak.)
• Pernikahan dianggap penghalang untuk menyenangkan orang tua.
• Masyarakat menganggap pernikahan akan merepotkan Studi, padahal justru dengan menikah penglihatan lebih terjaga dari hal-hal yang haram, dan semakin semangat menyelesaikan kuliah.

Memperbaiki Niat :

Innamal a'malu binniyat....... Niat adalah kebangkitan jiwa dan kecenderungan pada apa-apa yang muncul padanya berupa tujuan yang dituntut yang penting baginya, baik secara segera maupun ditangguhkan.

1. Niat Ketika Memilih Pendamping
Rasulullah bersabda :"Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya, Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya, Namun siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya."(HR. Thabrani).
"Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan itu membuatmu hina. Jangan kamu menikahi wanita karena harta / tahtanya mungkin saja harta / tahtanya membuatmu melampaui batas. Akan tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang shaleh, meskipun buruk wajahnya adalah lebih utama". (HR. Ibnu Majah).
Nabi SAW. bersabda : Janganlah kalian menikahi kerabat dekat, sebab (akibatnya) dapat melahirkan anak yang lemah (baik akal dan fisiknya) (Al Hadits).
Dari Jabir r.a., Sesungguhnya Nabi SAW. telah bersabda, ¡§Sesungguhnya perempuan itu dinikahi orang karena agamanya, kedudukan, hartanya, dan kecantikannya ; maka pilihlah yang beragama." (HR. Muslim dan Tirmidzi). Niat dalam Proses Pernikahan
Masalah niat tak berhenti sampai memilih pendamping. Niat masih terus menyertai berbagai urusan yang berkenaan dengan terjadinya pernikahan. Mulai dari memberi mahar, menebar undangan walimah, menyelenggarakan walimah. Walimah lebih dari dua hari lebih dekat pada mudharat, sedang walimah hari ketiga termasuk riya'. "Berikanlah mahar (mas kawin) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan."(Qs. An Nisaa (4) : 4).
Rasulullah SAW bersabda : "Wanita yang paling agung barakahnya, adalah yang paling ringan maharnya" (HR. Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dengan sanad yang shahih). Dari Aisyah, bahwasanya Rasulullah SAW. telah bersabda, "Sesungguhnya berkah nikah yang besar ialah yang sederhana belanjanya (maharnya)" (HR. Ahmad). Nabi SAW pernah berjanji : "Jangan mempermahal nilai mahar. Sesungguhnya kalau lelaki itu mulia di dunia dan takwa di sisi Allah, maka Rasulullah sendiri yang akan menjadi wali pernikahannya." (HR. Ashhabus Sunan). Dari Anas, dia berkata : " Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim dengan mahar berupa keIslamannya" (Ditakhrij dari An Nasa'i)..Subhanallah..
Proses pernikahan mempengaruhi niat. Proses pernikahan yang sederhana dan mudah insya Allah akan mendekatkan kepada bersihnya niat, memudahkan proses pernikahan bisa menjernihkan niat. Sedangkan mempersulit proses pernikahan akan mengkotori niat. "Adakanlah perayaan sekalipun hanya memotong seekor kambing." (HR. Bukhari dan Muslim)
Pernikahan haruslah memenuhi kriteria Lillah, Billah, dan Ilallah. Yang dimaksud Lillah, ialah niat nikah itu harus karena Allah. Proses dan caranya harus Billah, sesuai dengan ketentuan dari Allah.. Termasuk didalamnya dalam pemilihan calon, dan proses menuju jenjang pernikahan (bersih dari pacaran / nafsu atau tidak). Terakhir Ilallah, tujuannya dalam rangka menggapai keridhoan Allah.
Sehingga dalam penyelenggaraan nikah tidak bermaksiat pada Allah ; misalnya : adanya pemisahan antara tamu lelaki dan wanita, tidak berlebih-lebihan, tidak makan sambil berdiri (adab makanan dimasyarakat biasanya standing party-ini yang harus di hindari, padahal tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW yang demikian), Pengantin tidak disandingkan, adab mendo'akan pengantin dengan do'a : Barokallahu laka wa baroka 'alaikum wa jama'a baynakuma fii khoir.. (Semoga Allah membarakahi kalian dan melimpahkan barakah kepada kalian), tidak bersalaman dengan lawan jenis, Tidak berhias secara berlebihan ("Dan janganlah bertabarruj (berhias) seperti tabarrujnya jahiliyah yang pertama" - Qs. Al Ahzab (33),

2. Meraih Pernikahan Ruhani
Jika seseorang sudah dipenuhi dengan kecintaan dan kerinduan pada Allah, maka ia akan berusaha mencari seseorang yang sama dengannya. Secara psikologis, seseorang akan merasa tenang dan tentram jika berdampingan dengan orang yang sama dengannya, baik dalam perasaan, pandangan hidup dan lain sebagainya. Karena itu, berbahagialah seseorang yang dapat merasakan cinta Allah dari pasangan hidupnya, yakni orang yang dalam hatinya Allah hadir secara penuh. Mereka saling mencintai bukan atas nama diri mereka, melainkan atas nama Allah dan untuk Allah.
Betapa indahnya pertemuan dua insan yang saling mencintai dan merindukan Allah. Pernikahan mereka bukanlah semata-mata pertemuan dua insan yang berlainan jenis, melainkan pertemuan dua ruhani yang sedang meniti perjalanan menuju Allah, kekasih yang mereka cintai. Itulah yang dimaksud dengan pernikahan ruhani. KALO KITA BERKUALITAS DI SISI ALLAH, PASTI YANG AKAN DATANG JUGA SEORANG (JODOH UNTUK KITA) YANG BERKUALITAS PULA (Al Izzah 18 / Th. 2)

Penutup
"Hai, orang-orang beriman !! Janganlah kamu mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah kepada kamu dan jangan kamu melampaui batas, karena Allah tidak suka kepada orang-orang yang melampaui batas." (Qs. Al Maidaah (5) : 87).
Karena sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan. Dan sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (Qs. Alam Nasyrah (94) : 5- 6 ).
Ibunda, Ayahanda dan saudara-saudaraku yang sangat saya hormati, saya sayangi dan saya cintai atas nama Allah.. demikanlah proposal ini (secara fitrah) saya tuliskan. Saya sangat berharap Ibunda, Ayahanda dan saudara- saudaraku.. memahami keinginan saya. Atas restu dan doa dari Ibunda serta Ayahanda..saya ucapkan "Jazakumullah Khairan katsiira". "Ya Allah, jadikanlah aku ridho terhadap apa-apa yang Engkau tetapkan dan jadikan barokah apa-apa yang telah Engkau takdirkan, sehingga tidak ingin aku menyegerakan apa-apa yang engkau tunda dan menunda apa-apa yang Engkau segerakan.. YA ALLAH BERILAH PAHALA DALAM MUSIBAHKU KALI INI DAN GANTIKAN UNTUKKU YANG LEBIH BAIK DARINYA.. Amiin"
====================================
Dedicated to : My inspiration .... yang pernah singgah dan menghuni "hati" ...Astaghfirullah !! Saat langkah ada didunia maya, tak menapak di bumi-Nya..Lalu, kucoba atur gelombang asa..Robbi kudengar panggilanMu tuk meniti jalan RidhoMu.. Kuharap ada penolong dari hambaMu meneguhkan tapak kakiku di jalan-Mu dan menemani panjangnya jalan dakwah yang harus aku titi.. " Saat Cinta dan Rindu tuk gapai Syurga dan Syahid di jalanNya makin membuncah.."
====================================
Maraji / Referensi :
1. Majalah Ishlah, Edisi Awal Tahun 1995.
2. Fiqh Islam, H. Sulaiman Rasyid, 1994, Cet. 27, Bandung, Sinar Baru Algesindo.
3. Fikih Sunnah 6, Sayyid Sabiq, 1980, cet. 15, Bandung, Pt. Al Ma'arif.
4. Kupinang Engkau dengan Hamdalah, Muhammad Faudzil Adhim, 1998, Yogyakarta, Mitra Pustaka.
5. Indahnya Pernikahan Dini, Muhammad Faudzil Adhim, 2002, Cet. 1, Jakarta, Gema Insani Press.
6. Rintangan Pernikahan dan Pemecahannya, Abdullah Nashih Ulwan, 1997, Cet. 1, Jakarta, Studia Press.
7. Perkawinan Masalah Orang muda, Orang Tua dan Negara, Abdullah Nashih Ulwan, 1996, Cet. 5, Jakarta, Gema Insani Press.
8. Kebebasan Wanita, jilid 1, 5, 6, A.H.A. Syuqqah, 1998, Cet.1, Jakarta, Gema Insani Press
9. Sulitnya Berumah Tangga, Muhammad Utsman Al Khasyt, 1999, Cet. 18, Jakarta, Gema Insani Press.
10. Majalah Cerdas Pemuda Islam Al Izzah, Wahai Pemuda, Menikahlah, No. 17/Th. 2 31 Mei 2001, Jakarta, YPDS Al Mukhtar.

MENYELAMI SAMUDERA SIROH UNTUK PELITA HATI (Tadabbur Siroh Li Tazkiyatun Nafs)


Janganlah engkau bertanya
kepada seseorang tentang dirinya
Tetapi bertanyalah tentang temannya
Sebab, setiap teman itu
akan mengikuti orang yang ditemaninya

           Itulah sebait kata dari penyair Arab tentang realita kehidupan sosial masyarakat. Esensi syair tersebut sebenarnya melihat kondisi interaksi manusia sudah tidak lagi konsisten dengan mencontoh perilaku kehidupan Rasulullah SAW sebagai suri tauladan dan para sahabat sebagai tapak tilas kehidupan zaman keemasan Islam dengan segala aspek universal dan integralnya, sehingga efek samping dari persahabatan itu malah membuat para aktivis dakwah menjadi futur, tidak maksimal dalam ibadah, terjerumus dalam penyakit hati bahkan ada yang sampai benar-benar meninggalkan dakwah karena sebuah arti persahabatan.

           Didasari oleh sebuah hadist Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Abu Dawud yang artinya berbuyni : " Agama seseorang itu akan tergantung temannya. Karenanya hendaklah di antara kamu memperhatikan siapa yang menjadi temannya". Ya.. begitulah kehidupan di zaman Rasulullah SAW begitu hati-hatinya mentarbiyah para sahabat agar saling menjaga inti sebuah agama yaitu iman dari setiap jiwa para sahabat. Kekuatan imanlah akhir dari kesimpulan keselamatan dunia dan akhirat kita semua. Sehingga para sahabat yang dibentuk dengan kerangka iman mampu mengalahkan tirani hati yang sombong dan keras sehingga runtuhlah tirani nafsu syaitan dan tumbangnya imperium orang kafir.

           Begitu banyak orang-orang yang hadir untuk menghiasi kehidupan Rasulullah SAW kemudian mereka saling melengkapi dalam mengarungi sebuah pelajaran hidup, suka maupun duka yang tetap menjaga konsistensi keimanan. Pada kali ini marilah kita para aktivis dakwah bisa menggali mutiara yang dipancarkan oleh para khulafaurrasyidin. Khulafaurrasyidin adalah miniatur konsep persahabatan ikhwan yang menjaga keaslian masing-masing karakter, tetapi mereka saling melengkapi dari setiap kekurangannya. Tak jarang Rasulullah SAW memuji, mendo'akan , mengambil ibroh dari sisi kehidupan mereka.
         Wahai para ikhwan, mari kita coba satu persatu meneladani khufaurrasyidin (Abu Bakar, Umar ibn Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib) dari segi karakter persahabatannya.

1. Abu Bakar Ash-Shiddiq RA

           Begitulah julukan yang diberikan Rasulullah SAW kepada beliau yaitu Ash-Shiddiq (jujur/dapat dipercaya). Ya... sosok sahabat yang selalu meyakinkan Rasulullah SAW di saat fitnah melanda dakwah, bahwa masih ada orang yang mempercayai Rasulullah SAW seratus persen. Kalaulah kita bisa melihat dari sisi psikologis, manusia mana yang tidak butuh dukungan di masa hati sedang goyah, di saat 'mulut-mulut jahat' menebar fitnahnya. Minimal kita sebagai sahabat kita bisa membangun kembali posisi akal sadarnya dan menstabilkan emosinya. Secara psikologis ikhwan lebih mudah terbuka kepada sahabatnya yang dianggap dapat 'dipercaya'. Berbeda dengan akhwat, mereka lebih memilih yang 'disukai' atau 'cocok berkomunikasinya'.

           Satu sisi lain dari diri Abu Bakar yaitu sifat kebapakannya. Benar adanya Abu Bakar lebih tua dibandingkan Rasulullah SAW, tapi bukan itu titik tekannya. Memahami bahasa hati, tidak 'tua-tua keladi' itulah yang harus dicontohkan orang tua atau yang dituakan kepada anaknya atau 'adik-adiknya'. Senior yang lebih dewasa dalam percontohan aktivitas dakwahnya, agar lebih mudah memahami kondisi kejiwaan juniornya ketika tidak mampu untuk terbuka.

2. Umar bin Khattab, Amirul Mukminin RA

          Sosok Umar sangat terkenal dengan keberaniannya, gagah nan perkasa, tegas dan lugas, 'pejantan tangguh' di medan jihad. Sehingga tergambarkan dalam bait katanya : " hai orang-orang musyrik, orang-orang kafir Quraisy apabila kalian ingin mambunuh Rasulullah SAW maka hadapi dulu aku, maka kutebas kalian dengan pedangku!". hanya dengan seorang Umar agama Islam ini menjadi mulia dengan kekuatannya, ditakuti oleh orang-orang kafir sehingga dakwah ini bisa lebih terbuka lebar, karena sudah memiliki 'tameng' kekuatan fisik yang ternama di kalangan kaumnya.
          Kita harus mempunyai teman yang mempunyai karakter seperti Umar, mampu membela sampai di mana pengorbanan fisik itu dilakukan ketika menghadapi musuh-musuh Allah SWT yang menyakiti kita. Sifat tegasnya bukan berarti keras, terlihat dari hasil-hasil monumental ijtihadnya yang kemudian dibukukan menjadi fiqh ijtihad Umar bin Khattab, itulah Amirul Mukminin.
          Sifat 'kerasnya' telah terpaut dengan penghambaannya. Ketika Umar bin Khattab menjadi khalifah, menungkapkan isi hatinya dengan tegas: "Ketika aku sebelum menjadi khalifah , aku selalu tegas menghukum orang-orang yang menentang hukum Allah SWT. pada saat ini aku telah menjadi khalifah, siapa yang mau menebas leherku, menghukumku ketika aku lupa akan kewajibanku, kepada umatku. Aku takut karena amanah ini, bisa merubah hidupku tak seperti dulu...". Ungkapan kejiwaannya yang tegas demi menjaga hati yang terkikis oleh arus kehidupan yang deras, lebih baik daripada diam atau menutup diri tapi menjerumuskan diri sendiri dan dakwah ini.

3. Utsman bin Affan, Dzur Qarnain RA


           Sisi kelebihan Utsman adalah orang begitu bijaksana dan konseptor. terlihat dari pembukuan mushaf Al Qur'an karena meyakini lambat laun umat butuh penyebaran 'untaian kata' pedoman hidup manusia yang ada di alam semesta ini. Maka lahirlah mushaf Utsmani . Mengakomodir kepentingan umat, bukan hanya umat Islam saja. Di saat perluasan penyebaran agama Islam ke benua-benua lainnya, dengan kekuatan konsepnya maka lahirlah Angkatan Laut Islam pertama, karena untuk menjaga serangan-serangan bangsa Romawi. Memberikan sumbangsih pemikiran terbaiknya untuk dakwah ini merupakan nilai tak terhingga dari amal dakwah ini, daripada bersikap pasif dan diam tanpa makna.
           Ada keunikan hadir dalam sosok laki-laki ini yaitu ia mempunyai sifat sangat pemalu. Sehingga Utsman mampu memberikan teladan di bidang tata krama dan kesopanan atau adab-adab dalam pergaulan. Sampai-sampai Rasulullah SAW bersabda :" yang paling penyayang di antara kalian dialah Abu Bakar, yang paling keras dalam agama Allah SWT dialah Umar, dan yang paling besar rasa malu nya dialah Utsman". Malu ketika kita tidak mampu mengontrol sikap dan tindakannya. Malu karena khawatir apa yang kita perbuat akan menyakiti hati temannya. Malu karena kita tidak bisa memberikan terbaik untuk teman dan dakwah ini.

4. Ali bin Abi Thalib


        Cerdas, pintar, jenius, muda dan energik itulah yang tergambar dari sosok Khulafaurrasyidin ke-4 ini. Sehingga para ulama dan sahabat di masanya menceritakan kecerdasannya ungkapan : "tidak akan cukup empat puluh unta untuk membawakan hasil pentafsiran Ali pada kalimat Bismillahirrahmanirrahim saja ". Di sinilah kita dianjurkan untuk berteman yang mempunyai kecerdasan intelektual yang tinggi. Sebagaimana pepatah Indonesia mengatakan :"Berteman dengan tukang minyak wangi akan terkena wanginya, berteman dengan pandai besi akan terkena bau asapnya".
          Intelektual yang moralis dan agamis, karena ke depan kita membutuhkan orang-orang yang cerdas secara emosional, spiritual, dan intelektual dalam membangun kerangka dakwah ini agar tetap eksis. Sosok aktivis dakwah yang moderat dalam segala hal, tidak jumud dan eksklusif.
            Begitulah Rasulullah SAW mentarbiyah para sahabatnya dalam konsep membangun tatanan tarbiyah persahabatan lebih dari sisi kepribadian yang dimiliki, agar saling melengkapi seperti sifat-sifat Khulafaurrasyidin (nilai kejujuran, nilai keberanian, nilai kebijaksanaan, dan nilai kecerdasan) yang empat orang di atas. ya.. minimal kita harus memiliki empat sahabat karib dari sisi karakter tersebut. Saling mengetahui sisi kelebihan kepribadiannya yang dipersembahkan terbaik untuk dakwah ini, menjadi Qudwah dan Uswah serta saling menasehati dalam kebaikan.
Samudera Siroh Akhawat....

           Tak luput juga untuk para akhwat, bagian pelengkap kesempurnaan dalam makna kehidupan membangun pilar-pilar dakwah. Banyak sosok para akhwat di zaman Rasulullah SAW yang dapat 'mempesonakan' gerakan dakwah. Pada zaman sebelumnya pun bahkan ada yang dikenang dan tercantum nama sang mujahidah sejati itu dalam memoar kitab suci Al Qur'an yang harus kita yakini nilai kebenaran kisah dan ibrohnya. Mari para akhwat untuk merenung sejenak dan singkat dalam kisahnya orang-orang yang mempersembahkan hati, jiwa, dan hartanya untuk dakwah Islam ini dengan sepenuh hati tanpa pamrih.
Mentadabburi siroh para ummahat terdahulu, merupakan sebuah komitmen untuk meluruskan sedikit demi sedikit nilai "kebengkokan' para akhwat . "Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk kanan yang bengkok". Ya.. pada dasarnya seperti itu . Meluruskannya jangan dipaksakan nanti akan 'patah', namun bila dibiarkan maka akan semakin jadi 'bengkoknya'. Sehingga mudah-mudahan para akhwat mampu meminimalisir hadits Nabi SAW yang berbunyi :" Sesungguhnya ummatku yang paling banyak di neraka adalah wanita, maka bersedakahlah". (H.R. Abu Dawud)

1. Khodijah Binti Khuwailid

          Beliau adalah tokoh akhwat sedunia pada masanya, orang yang selalu meneguhkan hati Rasulullah SAW di kala peristiwa deklarasi bahwa Muhammad SAW adalah Rasulullah akhir zaman, penyempurna risalah dakwah para nabi sebelumnya. Orang yang memperkokoh keimanan Rasulullah SAW. Dengan kesetiaannya di jalan dakwah membuat hati Rasulullah SAW pilu di saat Khadijah binti Khuwailid meninggal dunia, sehingga dikenallah dengan amul huzni, tahun kesedihan . Bagaimana mungkin Rasulullah SAW tidak bersedih ditinggalkan oleh orang yang telah mempersembahkan kekayaannya untuk dakwah, orang yang pertama kali membela dan meyakini dakwah dan risalahnya.
         Figur akhwat seperti inilah kemudian yang selalu dikenang oleh suaminya, sehingga suatu saat Rasulullah SAW sering memanggil nama Khadijah di sela-sela tidurnya padahal Khodijah sudah meninggal dunia. Kejadian inilah yang membuat Aisyah RA sedikit 'protes' dengan berkata :" Ya Rasulullah, wahai suamiku, engkau sering kali memanggil Khodijah padahal beliau sudah meninggal dunia, wanita tua yang kalah cantiknya dengan diriku, aku lebih muda dan segar". Dengan ramah Rasulullah SAW menjawab kecemburuan Aisyah : " Sesungguhnya tanpa Khodijah mungkin dakwah ini tak seindah sekarang...". Ya.. begitulah Khodijah, istri pertama membuat kesan yang dalam bagi hati Rasulullah SAW, di saat istri-istri lainnya tetap hadir membagi rasa dan cintanya terhadap Rasulullah SAW dan dakwahnya. Bahkan Rasulullah SAW tidak pernah menikah lagi saat Khodijah masih ada di sisinya.

2. Aisyah binti Abu Bakar

          Akhwat ini bukan lulusan perguruan tinggi, juga tidak pernah belajar dari para orientalis. Tapi, dia menjadi gurunya kaum laki-laki dengan kecerdasan dalam menghapal dan menteladani hadits Nabi SAW. beliau membuktikan bahwa akhwat lebih pandai dari ikhwan dalam bidang politik atau strategi perang. Sosok seorang akhwat yang mengusai banyak ilmu. Figur istri yang selalu membuat 'segar' hati dan jiwa Rasulullah SAW. Nuansana ceria dan energik yang dihadirkan membuat hati Rasulullah SAW tidak merasa penat dan terhibur di sela-sela kesibukannya dalam berdakwah dengan canda dan tawanya. Teladan akhwat yang siap dipoligami di saat usianya muda belia. Murobbiyah ideal para ummahat di zamannya.
           Lincah dan visioner membuat dirinya ummul mukminin. Seorang akhwat yang mampu melayani kebutuhan umat dan dakwahnya dengan persembahan terbaiknya, apalagi untuk suaminya. Sifat 'melayani' itu yang kemudian menjadi teladannya, sangat respon terhadap peristiwa-peristiwa kecil maupun besar yang hadir di tengah umatnya, bagaikan dokter pendeteksi penyakit-penyakit yang menjangkit umatnya Sastrawati dan ilmuwan yang mampu merangkai kata indah sehingga umatnya terpesona dengan kafa'ah ilmunya, Beliau adalah murid dan alumni dari madrasah kenabian dan madrasah iman.
        Di saat dakwah sudah terbuka lebar tapi tetap menjaga tarbiyahnya. Yakhtalit walakin yatamayyazun,berbaur dengan baik tapi tetap menpunyai ciri khas sebagai akhwat aktivis dakwah.
         Inilah yang harus para akhwat teladani. Kita bersyukur dengan meluasnya garapan dakwah kita, banyaknya aktivis dakwah yang sudah berbaur di tengah-tengah berbagai komunitas manusia. Tapi pembuktian yatamayyazunnya belum terlihat jelas , bahkan malah banyak terkontaminasi baik pola fikirnya, gaya hidupnya, dan pudarnya identitas keakhwatan yang lainnya. Begitulah Aisyah yang sekufu' keimanan dan akhlaknya dengan Rasulullah SAW.

3. Maryam binti Imran

          Wanita yang paling suci sedunia, tidak pernah 'tersentuh' oleh seorang ikhwan pun. terpilih dan terukir namanya dalam salah satu surat di Al Qur'an. Diceritakan kisahnya dalam surat ke-19 ayat 16-36. maryam mampu menjaga hatinya dari kehidupan dunia yang mengikisnya, mampu menjaga matanya (ghadul bashar) terhadap 'pemandangan' yang menerkam hati dan perasaan, tidak condong untuk banyak merias diri. Mampu mambuat bi'ah sahihah, menjawab tantangan kehidupan sosial dan kultur masyarakat yang melanda di zamannya. Sebagaimana Allah SWT mengabadikannya dalam Al Qur'an : " dan ceritakanlah kisah Maryam di dalam Al-Qur'an ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur." (QS Maryam:16). Menjauhkan diri dari suasana hiruk pikuk keduniaan.
          Memberikan pembuktian, bahwa Islam adalah agam yang hanif, sehanif hati dan jiwanya. membentuk jiwa yang tabah di saat kasih sayang Allah SWT datang kepadanya : " Jibril berkata : sesungguhnya aku ini hanyalah seorang urusan Tuhanmu, untuk memberimu anak laki-laki yang suci. Maryam berkata : "bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan pula seorang pezina". (QS Maryam 19-20). Itulah jawaban dari seorang akhwat sejati, datang kepadanya kondisi konflik jiwa antar realita dan harapan . Tapi tetap menerima kondisi itu karena adalah jawaban kasih sayang-Nya Allah SWT kepadanya, istiqomah mempertahankan idealisme inner beauty. Maka berdo'alah Maryam : "Maryam berkata : Sesungguhnya aku berlindung dari padaMu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.. " (QS Naryam : 18)
       Sabar, tabah, rendah hati, suci hati, dan pikirannya, meningkatkan kapasitas keimananannya membentuk kerangka kepribadiannya, membentuk karakter individu (single) untuk masa depan sebelum beranjak kepada status sosial yang lebih kompleks. Agar bisa menjadi teladan di saat menjadi istri, tarbiyatrul aulad serta sebagai ummi terealisasi tanpa beban moral.

3. Aisiyah, istri Fira'un

          Ada masanya hukum Allah SWT hadir menentukan masa depan kita. Takdir itu hadir tidak hanya dalam kondisi baik, bahkan bisa jadi sesuatu hal yang tidak kita inginkan. Semisal Aisiyah, seorang yang amat sangat solehah dan tabah menghadapi suami yang 'ammah tapi bukan hanya itu, malah suaminya Fira'un menentang dakwahnya Nabi Musa AS. Tapi tetap nilai istiqomah yang kokoh dalam kepribadiannya Aisiyah menambah nilai ketaatannya kepada Allah SWT, Tergambarkan dalam firman Allah SWT : "Dan Allah SWT membuat istri Fira'un perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata : Ya Allah SWT, ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam syurga dan selamatkanlah aku dari Fira'un dan perbuatannya dan selamtakanlah aku dari kaum yang zhalim." (QS At Tahrim:11). Tidak terkontaminasi kehidupan suami atau lingkungan yang jauh dari keindahan Islam dan dakwahnya.
             Memang ada ibarat bahasa sekufu' ketika membicarakan jodoh, sebagaimana Allah SWT selalu menegaskannya dalam surat An-Nur ayat 26 yang berbunyi :" Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, laki-laki yang keji adalah untuk wanita yang keji pula. Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik, laki-laki yang baik untuk wanita yang baik pula..". Tapi kenapa pada Aisiyah ada kontradiktif kesekufu'annya. Itulah kekuatan ibrah dari Allah SWT. Istri yang ahli ibadah bertolak belakang dengan suami yang menentang dakwah. Kekuatan iman Aisiyah agar bisa mengimbangi kedzaliman Fira'un dan pengejawantahannya dengan diberikan izin Aisiyah membesarkan Musa AS, itulah hasil refleksi keimanannya.
            Suatu saat kelak mungkin para akhwat akan bernasib sama. Sudah terlihat ketika dakwah ini mulai 'fulgar' mengepakkan 'sayap-sayap' dakwahnya. Fenomena itu pun terjadi. Fenomena para ikhwan dan akhwat banyak yang menikah dengan orang-orang รข'ammah dan hanif. Membuat banyak interpretasi penyikapan. Sampai-sampai mempertanyakan janji-janji Allah SWT dalam surat An-Nur ayat 28 di atas. Apakah itu sekufu'. Sang akhwat dengan jilbab lebarnya, pakaian rapih menutupi auratnya, kok bisa ya dapat suami bukan aktivis dakwah, ataupun sebaliknya.
            Sebenarnya ada 2 pemaknaan yang harus kita renungkan bersama di luar pemaknaan takdir Allah SWT. Pertama, mungkin Allah SWT Maha Tahu di balik peristiwa yang terjadi. Bisa jadi hidayah itu malah datang dari sentuhan keimanan sang ikhwan-akhwat yang kuat. Allah SWT dengan cinta-Nya memberikan pahala hidayah, kesabaran berdakwahnya dan penetrasi kekurangan keimanan sang suami atau istri yang 'ammah tadi. menambah barisan dakwah, pintu hidayah terbuka dari siapa saja dan kepada siapa saja. Kedua, Allah SWT tidak akan pernah melanggar janjinya. Benar apa adanya makna sekufu itu. Kalulah hal itu benar-bbenar terjadi, berarti ada faktor lain yang 'merasuki' lebarnya jilbab, rapihnya pakaian serta 'pesona' jenggotnya seorang ikhwan. Ya... sesuai deang kadar keimanannya masing-masing, atau dengan kata lain ada penyakit hati yang 'menggenang' dan 'dinikmati'. Sebagaimana makna dari hadits Nabi SAW yang secara jelas menyatakn: "Allah SWT tidak pernah melihat dzahirnya tapi melihat isi hatinya".maka dengan demikian hukum ini berlaku sesuai dengan kadar keimannya, kondisi hatinya, nilai ketaatan ibadahnya dan hal-hal yang tak pernah nampak darinya. Begitulah Allah SWT memberikan ganjaran kepada hamba-Nya di dunia dengan Maha Adil dan Bijaksana.
             Tetapi ada hal yang harus kita renungkan bersama, aktivis dakwah adalah orang yang mempunyai idealisme berjama'ah membangun hidup lebih Islami, yang memang itu adalah bagian dari golongan umat Nabi SAW dan manhaj dakwahnya. Ketimbang orang-orang 'ammah yang tidak mempunyai idealisme berjama'ah, jangankan untuk berjama'ah dengan makan universal. Disuruh shalat berjama'ah saja sulit, begitu guyonannya. Padahal amal yang pertama kali ditanya adalah shalat fardhu yang lima waktu dan sebaik-baik shalat fardhu adalah shalat dengan berjama'ah.
           Menikahlah bukan sekedar dengan orang soleh atau solehah, tapi alangkah lebih baiknya kita 'mencari' orang-orang yang istiqomah dalam harakah, karena pada saat sekarang ini banyak ikhwan dengan 'gaya' janggut dan 'eksekutif muda'nya serta akhwat dengan 'feminims'nya hanya sekedar menjaga 'identidas' agar diakui sebagai seorang ikhwan ataupun akhwat, padahal dari sisi amal dan harakah sejuta alasan utnuk menghindari medan jihad yang benar-benar nyata janji-Nya. (Bacalah QS. At-Taubah : 24). Ya..alasan kerjalah, studilah, keluargalah karena istrilah dan lah..lah..yang lainnya.
           Internalisasai diri, mengkondisikan keluarga dan karib kerabat, mengislahkan masyarakat, menata kembali Undang-undang negara dan tatanan pemerintah, membangun negara Islam, khalifah fil Ard, dan puncaknya adalah Ustadziyatul 'Alam. Itu semua tahapan-tahapan dakwah yang butuh konsentrasi dan keistioqomahan yang satu sama lain saling berkesinambungan, tidak harus mengulangi mahawir yang telah kita lalui bersama.
             Ingatlah dakwah ini butuh nafas panjang, jangan sampai menambah lagi energi kita untuk satu masalah yang sebenarnya bisa ditanggulangi dengan bijak. Memang kita harus banyak mentadabburi siroh-siroh para Nabi dan sahabat yang lainnya. Agar mutiara hati kita kembali bersinar.
          Demikianlah tarbiyah siroh, memaparkan keindahannya dan membuktikan kebenarannya. Sebagaimana Allah SWT berfirman yang artinya : "seungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang memounyai akal, AlQur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membebarkan (kiyab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman". (QS Yusuf : 111).Wallahu'alam bishowwab.
Shahwah_islam: Mujahid Benteng
Renungan Sang Demostran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Memoar KAMMI UIN 2007-2008